Kino – Haruki Murakami (bag. 3-tamat)

kino1

MUSIM GUGUR datang dan si kucing menghilang.

Perlu beberapa hari bagi Kino untuk menyadari bahwa kucing itu telah lenyap. Kucing ini—masih tidak bernama—datang ke bar sesuka hati dan kadang tidak menampakkan diri untuk beberapa lama, jadi kalaupun Kino tidak melihatnya selama seminggu, atau bahkan sepuluh hari, dia tidak khawatir. Kino menyukai kucing itu, dan kucing itu pun tampak memercayainya. Kucing itu juga seperti jimat keberuntungan bagi bar Kino. Kino punya kesan kuat bahwa selama kucing itu tidur di pojokan bar, tidak akan ada hal buruk terjadi. Tapi setelah dua minggu berlalu, Kino mulai khawatir. Setelah tiga minggu, firasat Kino mengatakan bahwa kucing itu tidak akan kembali.

Di sekitar waktu kucing itu menghilang, Kino mulai melihat ular di luar, di dekat bangunan barnya.

Ular pertama yang dia lihat berwarna cokelat tua dan bertubuh panjang. Ular itu ternaungi pohon dedalu di halaman depan, melata santai di sekitar situ. Kino, yang menenteng sekantong belanjaan, sedang membuka kunci pintu ketika melihatnya. Melihat ular di tengah Tokyo adalah hal yang jarang terjadi. Dia agak terkejut, tapi tidak khawatir tentang hal itu. Museum Nezu ada di belakang barnya, dengan tamannya yang luas. Bukan tak terbayangkan ada ular bersarang di sana.

Tapi dua hari kemudian, selagi Kino membuka pintunya tepat sebelum tengah hari untuk mengambil koran, dia melihat ular berbeda di tempat yang sama. Kali ini warnanya kebiruan dan lebih kecil daripada ular sebelumnya, dan tampak berlendir. Ketika melihat Kino, ular itu berhenti, sedikit mengangkat kepala, dan memakukan pandangan kepadanya, seakan mengenalnya. Kino ragu-ragu, tidak yakin harus melakukan apa, dan ular itu perlahan menurunkan kepalanya kemudian menghilang di antara bayang-bayang. Semua kejadian itu membuat Kino merinding.

Tiga hari kemudian, Kino memergoki ular ketiga. Ular itu juga ada di bawah naungan pohon dedalu di halaman depan. Ular ini tampak lebih kecil ketimbang ular yang lain dan berwarna kehitaman. Kino tidak tahu apa-apa tentang ular, tapi ular yang satu ini tampak paling berbahaya baginya. Entah bagaimana, ular itu tampak berbisa. Ketika menyadari kehadiran Kino, seketika ular itu merayap ke dalam semak. Tiga ular dalam waktu seminggu, entah bagaimana kau memandangnya, jelas terlalu banyak. Ada hal aneh yang sedang terjadi.

Kino menelepon bibinya yang ada di Izu. Setelah menceritakan perkembangan lingkungan perumahannya, Kino bertanya apakah bibinya pernah melihat ular di sekitar rumahnya di Aoyama.

“Ular?” tanya bibinya keras-keras, terdengar kaget. “Aku lama sekali tinggal di sana tapi sama sekali tidak ingat pernah melihat ular. Kupikir mungkin itu tanda akan ada gempa bumi atau sejenisnya. Binatang merasakan akan ada bencana dan mulai bertingkah aneh.”

“Kalau itu benar, mungkin lebih baik aku menyiapkan persediaan ransum darurat.”

“Sepertinya itu ide bagus. Suatu hari Tokyo akan diguncang gempa bumi besar.”

“Tapi apakah ular sepeka itu terhadap gempa?”

“Aku tidak tahu mereka peka terhadap apa,” ujar bibinya. “Tapi ular binatang pintar. Dalam legenda kuno, mereka sering membantu mengarahkan orang. Tapi, ketika seekor ular mengarahkanmu, kau tidak tahu apakah dia membawamu ke arah yang baik atau buruk. Seringnya, itu kombinasi antara kebaikan dan kejahatan.”

“Itu ambigu,” sahut Kino.

“Tepat sekali. Pada dasarnya ular adalah binatang ambigu. Dalam legenda-legenda ini, ular terpintar dan terbesar menyembunyikan jantungnya di suatu tempat di luar tubuhnya sehingga dia tidak bisa dibunuh. Kalau kau mau membunuh ular itu, kau harus pergi ke tempat persembunyiannya ketika ular itu tidak ada di sana, mencari jantungnya yang berdenyut, dan membelahnya jadi dua. Bukan pekerjaan mudah, tentu saja.”

Bagaimana bisa bibinya tahu semua ini?

“Beberapa hari lalu aku menonton tayangan di NHK yang membandingkan legenda-legenda di seluruh dunia,” jelas bibinya, “dan seorang profesor dari suatu universitas bercerita tentang hal ini. TV bisa lumayan berguna—kalau kau punya waktu, sebaiknya kau lebih banyak nonton TV.”

Kino mulai merasa seakan-akan rumahnya dikelilingi ular. Dia merasakan kehadiran mereka yang diam-diam. Pada tengah malam, ketika Kino menutup barnya, suasana di perumahan sangat tenang, tidak ada suara selain sirene yang sesekali terdengar. Begitu tenang hingga dia nyaris bisa mendengar ular melata di sekitarnya. Dia mengambil papan dan memakukannya ke pintu kecil yang dia buat untuk si kucing sehingga tidak akan ada ular yang bisa masuk ke rumah.

 

SUATU MALAM, menjelang pukul sepuluh, Kamita muncul. Dia memesan bir, diikuti White Label dobel yang biasa dipesannya, dan makan kol isi. Tidak biasanya dia datang begitu larut, dan duduk di sana begitu lama. Beberapa kali, dia mengalihkan pandangan dari bacaannya untuk menatap dinding di depannya, seolah-olah sedang merenungkan sesuatu. Menjelang jam tutup, dia masih bergeming, sampai menjadi pengunjung terakhir di sana.

“Mr. Kino,” kata Kamita sedikit formal, setelah membayar tagihannya. “Saya sangat menyesal karena sekarang sudah saatnya.”

“Sudah saatnya?” ulang Kino.

“Bahwa Anda harus menutup bar ini. Bahkan walaupun untuk sementara.”

Kino memandang Kamita, tidak tahu bagaimana menanggapinya. Menutup barnya?

Kamita memandang berkeliling bar yang sudah kosong, kemudian kembali menatap Kino. “Anda tidak paham apa yang saya katakan, bukan?”

“Saya rasa begitu.”

“Saya sangat menyukai bar ini,” kata Kamita seakan-akan mengungkapkan suatu rahasia kepadanya. “Bar ini tenang, jadi saya bisa membaca, dan saya menikmati musiknya. Saya sangat senang ketika Anda membuka bar di sini. Tetapi sayangnya, ada beberapa hal yang sudah hilang.”

“Hilang?” ujar Kino. Dia tidak tidak tahu apa maksudnya ini. Yang bisa dia bayangkan hanyalah cangkir teh dengan koin kecil di gagangnya.

“Kucing abu-abu itu tidak akan kembali,” kata Kamita. “Untuk sementara ini, paling tidak.”

“Karena tempat ini kehilangan sesuatu?”

Kamita tidak menjawab.

Kino mengikuti arah pandangan Kamita, dan memandang ke sekeliling bar dengan saksama, tapi tidak melihat hal yang di luar kebiasaan. Walaupun begitu, Kino merasa tempat ini lebih kosong daripada yang sudah-sudah, kekurangan daya hidup dan coraknya. Sesuatu yang jauh melampaui biasanya, semacam perasaan malam-ini-tutup-saja.

Kamita berkata, “Mr. Kino, Anda bukan jenis orang yang mau melakukan hal yang keliru. Saya paham betul. Tapi di dunia ini ada masanya ketika tidak melakukan hal yang keliru belumlah cukup. Beberapa orang menganggap ruang kosong itu sebagai semacam jalan untuk meloloskan diri. Anda paham perkataan saya?”

Kino tidak paham.

“Pikirkan hal ini baik-baik,” ujar Kamita, menatap langsung ke mata Kino. “Ini pertanyaan yang sangat penting, layak dipikirkan dengan serius, meskipun jawabannya mungkin tidak akan muncul dengan mudah.”

“Anda bilang ada masalah serius yang telah terjadi, bukan karena saya melakukan sesuatu yang keliru tapi karena saya tidak melakukan hal yang benar? Masalah yang berkaitan dengan bar ini, atau saya sendiri?”

Kamita mengangguk. “Anda bisa mengatakannya demikian. Tapi saya tidak hanya menyalahkan Anda, Mr. Kino. Saya juga salah karena tidak menyadarinya lebih awal. Seharusnya saya lebih memperhatikan. Tempat ini nyaman tidak hanya untuk saya tapi juga untuk semua orang.”

“Lalu apa yang harus saya lakukan?” tanya Kino.

“Tutup bar ini untuk sementara dan pergilah yang jauh. Tidak ada hal lain yang bisa Anda lakukan saat ini. Saya rasa yang terbaik bagi Anda adalah meninggalkan tempat ini sebelum turun hujan deras. Maaf kalau saya menanyakannya, tapi apakah Anda punya cukup uang untuk melakukan perjalanan panjang?”

“Saya rasa saya bisa membiayainya untuk beberapa lama.”

“Bagus. Anda bisa mengkhawatirkan hal selanjutnya setelah Anda memahaminya.”

“Tapi, siapa Anda?”

“Saya hanya laki-laki bernama Kamita,” jawab Kamita. “Ditulis dengan huruf untuk kata kami, ‘tuhan,’ dan ta, ‘ladang,’ tapi tidak dibaca ‘Kanda’. Saya sudah sejak lama tinggal di sekitar sini.”

Kino memutuskan untuk sekalian terjun dan bertanya, “Mr. Kamita, saya punya pertanyaan. Apakah Anda pernah melihat ular di sekitar sini sebelumnya?”

Kamita tidak menjawab. “Ini yang harus Anda lakukan. Pergilah yang jauh, dan jangan menetap di satu tempat untuk waktu lama. Dan setiap Senin dan Kamis, pastikan mengirim kartu pos. Dengan begitu, saya akan tahu Anda baik-baik saja.”

“Kartu pos?”

“Kartu pos bergambar apa saja yang menunjukkan lokasi Anda.”

“Tapi kepada siapa saya harus mengirimkannya?”

“Anda bisa mengirimkannya kepada bibi Anda di Izu. Jangan menuliskan nama Anda atau pesan apa pun. Tuliskan saja alamat kirimnya. Ini sangat penting, jadi jangan lupa.”

Kino menatap laki-laki itu dengan kaget. “Anda kenal bibi saya?”

“Ya, saya mengenalnya dengan baik. Sebenarnya, dia meminta saya mengawasi Anda, untuk memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi. Tapi tampaknya saya gagal melaksanakan tugas itu.”

Siapa sebenarnya laki-laki ini? Kino bertanya kepada diri sendiri.

“Mr. Kino, kalau saja sudah tidak apa-apa bagi Anda untuk kembali, saya akan menghubungi Anda. Sampai saat itu, menjauhlah dari sini. Anda paham?”

Malam itu, Kino mengemas barang untuk perjalanannya. Yang terbaik bagi Anda adalah meninggalkan tempat ini sebelum turun hujan deras. Pemberitahuan itu begitu mendadak, dan dia tidak bisa menangkap logikanya. Tapi kata-kata Kamita punya kekuatan persuasif dahsyat yang jauh melampaui logika. Kino tidak meragukannya. Dia menjejalkan beberapa helai pakaian dan alat mandi ke dalam tas selempang berukuran sedang, tas yang dulu dia gunakan saat melakukan perjalanan bisnis. Seiring datangnya fajar, dia menempelkan pengumuman di pintu depan: “Maaf, barnya tutup sementara.”

Pergi yang jauh, kata Kamita kepadanya. Tapi Kino tidak tahu ke mana dia sebaiknya pergi. Haruskah dia menuju utara? Atau selatan? Dia memutuskan bahwa dia akan memulai perjalanan dengan menyusuri kembali rute yang sering dia lalui saat menjual sepatu lari. Dia naik bus ekspres dan pergi ke Takamatsu. Dia akan pergi berkeliling Shikoku sekali kemudian menuju Kyushu.

Dia check in ke hotel bisnis di dekat Stasiun Takamatsu dan menginap di sana selama tiga hari. Dia berkeliling di sekitar kota dan pergi menonton beberapa film. Bioskopnya sepi saat siang hari, dan film-filmnya, tanpa terkecuali, begitu membosankan. Ketika hari mulai gelap, dia kembali ke kamarnya dan menyalakan TV. Dia mengikuti saran bibinya dan menonton program edukasi, tapi tidak mendapatkan informasi yang berguna dari tayangan itu. Hari kedua di Takamatsu jatuh pada hari Kamis, jadi dia membeli kartu pos di toserba, membubuhkan prangko, lalu mengirimkannya kepada bibinya. Seperti arahan Kamita, Kino hanya menuliskan nama dan alamat bibinya.

“Pikirkan hal ini baik-baik,” kata Kamita kepadanya. “Ini pertanyaan yang sangat penting, layak dipikirkan dengan serius.” Tapi, tidak peduli seserius apa pun dia memikirkannya, Kino tidak bisa menebak apa masalah sebenarnya.

 

BEBERAPA hari kemudian, Kino menginap di hotel bisnis murah dekat Stasiun Kumamoto, Kyushu. Kamar dengan atap rendah, ranjang sempit, TV mungil, bak mandi amat kecil, dan kulkas kecil jelek. Dia merasa seperti raksasa kikuk dan canggung. Walaupun begitu, selain perjalanan ke toserba di dekat situ, Kino berdiam seharian di kamar. Di toserba, dia membeli sebotol kecil wiski, beberapa botol air mineral, dan biskuit sebagai camilan. Dia berbaring di ranjang sambil membaca. Ketika capek membaca, dia menonton TV. Ketika capek menonton TV, dia membaca.

Sekarang sudah hari ketiganya di Kumamoto. Dia masih punya uang di rekeningnya dan, kalau dia mau, dia bisa menginap di hotel yang jauh lebih bagus. Tapi dia merasa, untuk saat ini, inilah tempat yang tepat untuknya. Jika dia tinggal di tempat yang kecil seperti ini, dia tidak harus memikirkan hal yang tidak perlu, dan semua yang dia butuhkan berada dalam jangkauan. Tanpa terduga, dia mensyukurinya. Satu-satunya yang dia harapkan adalah musik. Teddy Wilson, Vic Dickenson, Buck Clayton—kadang, dia benar-benar mendamba untuk mendengarkan musik jazz lama mereka, dengan teknik yang mantap, bisa diandalkan, dan paduan nada yang terang-terangan. Dia ingin merasakan kesenangan murni yang mereka miliki dalam bermain musik, dengan optimisme luar biasa mereka. Tapi koleksi rekamannya ada di tempat yang sangat jauh. Dia membayangkan barnya yang sepi karena dia menutupnya. Jalanannya, pohon dedalunya yang besar. Orang-orang membaca pengumuman yang ditempelkannya kemudian pergi. Bagaimana dengan kucingnya? Kalau hewan itu kembali, dia akan mendapati pintunya ditutup papan. Dan apakah ular-ular itu masih berkeliaran di sekitar rumah?

Tepat di seberang jendela lantai delapannya adalah jendela gedung perkantoran. Dari pagi hingga sore, Kino mengamati orang-orang yang bekerja di sana. Dia tidak tahu usaha apa yang ada di sana. Laki-laki berdasi tampak masuk keluar, sementara perempuan mengetik di papan ketik, mengangkat telepon, mengarsipkan berkas-berkas. Bukan jenis pemandangan yang menarik minat seseorang. Karakteristik dan pakaian orang-orang yang bekerja di sana biasa saja, bahkan tampak banal. Kino mengamati mereka selama berjam-jam hanya karena satu alasan sederhana: dia tidak punya pekerjaan lain. Dan dia mendapati, tanpa terduga dan mengejutkan, betapa orang-orang di sana tampak bahagia. Beberapa di antaranya sering tertawa terbahak-bahak. Kenapa? Bekerja seharian di kantor yang membosankan, melakukan pekerjaan yang (setidaknya di mata Kino) tampak sama sekali tidak menggairahkan—bagaimana bisa mereka mengerjakannya dan masih merasa bahagia? Apakah ada semacam rahasia yang disembunyikan di sana sehingga dia tidak bisa memahaminya?

Sudah waktunya bagi Kino untuk kembali berpindah tempat. Jangan menetap di satu tempat untuk waktu lama, begitu kata Kamita. Tapi entah bagaimana, Kino tidak bisa membuat dirinya meninggalkan hotel Kumamoto yang kecil dan menyempil itu. Dia tidak bisa memikirkan tempat mana pun yang ingin dia datangi. Dunia adalah lautan luas tanpa petunjuk arah, dan Kino adalah perahu kecil yang kehilangan peta dan jangkarnya. Ketika Kino membentangkan peta Kyushu, memikirkan ke mana dia akan pergi setelah itu, dia merasa mual, seperti mabuk laut. Dia berbaring di kasur dan membaca buku, sesekali melirik untuk melihat orang-orang yang ada di kantor seberang jalan.

Hari itu Minggu, jadi dia membeli kartu pos bergambar Kastel Kumamoto di toko suvenir hotel, menulis nama dan alamat bibinya, kemudian menepukkan tangannya ke atas prangko. Dia menimang kartu posnya sejenak, memandang gambar kastelnya dengan tatapan hampa. Foto yang stereotipikal, jenis foto yang kauharapkan ada di kartu pos: kastelnya tampak menjulang gagah di tengah hamparan langit biru dan awan putih yang menggembung. Tak peduli berapa lamanya dia memandang kartu pos itu, Kino tidak bisa menemukan hubungan antara dirinya dan kastel itu. Lalu, mengikuti kehendak hatinya, dia membalikkan kartu pos itu dan menuliskan pesan untuk bibinya:

Apa kabar? Bagaimana kondisi punggungmu akhir-akhir ini? Seperti yang kau tahu, aku masih berjalan-jalan seorang diri. Kadang aku merasa seakan-akan tubuhku setengah transparan. Seakan-akan kau bisa melihat menembus organ-organ dalamku, seperti cumi-cumi yang baru ditangkap. Di samping itu, aku baik-baik saja. Aku ingin berkunjung kapan-kapan. Kino.

Kino tidak terlalu yakin apa yang mendorongnya menulis pesan itu. Kamita melarang keras hal itu. Tapi Kino tidak bisa menahan diri. Entah bagaimana aku harus kembali terhubung dengan kenyataan, pikirnya, kalau tidak aku tidak akan menjadi diriku lagi. Aku akan menjadi laki-laki yang tidak ada. Dan, sebelum dia bisa berubah pikiran, dia bergegas pergi ke kotak surat di dekat hotel dan menyelipkan kartu pos ke dalamnya.

 

SAAT dia terbangun, jam di samping tempat tidurnya menunjukkan pukul 2.15 dini hari. Seseorang mengetuk pintunya. Bukan ketukan keras, tapi jenis ketukan yang mantap dan teratur, seperti tukang kayu yang ahli sedang mengetok paku. Suaranya menyeret Kino keluar dari tidur nyenyaknya hingga kesadarannya secara menyeluruh, bahkan secara kejam, kembali seutuhnya.

Kino tahu apa artinya ketukan itu. Dan dia tahu bahwa dia harus turun dari tempat tidur dan membuka pintu. Apa pun yang dilakukan ketukan itu tidak punya kekuatan untuk membuka pintunya dari luar. Harus Kino yang membukanya dengan tangannya sendiri.

Terpikir olehnya bahwa kunjungan ini tepat seperti yang dia harapkan, tapi juga, pada saat yang sama, adalah hal yang paling dia takuti. Ini adalah bentuk ambiguitas: berada di ruang kosong di antara dua ekstrem. “Kau sakit hati, walau sedikit, bukan?” tanya istrinya. “Bagaimanapun, aku manusia,” sahutnya. Tapi itu tidak benar. Setengahnya, paling tidak, adalah kebohongan. Aku tidak cukup terluka ketika seharusnya merasakannya, Kino mengaku kepada diri sendiri. Ketika aku seharusnya merasakan kesakitan yang sesungguhnya, aku menahannya. Aku tidak ingin merasakannya, jadi aku menghindar agar tidak menghadapinya. Itulah kenapa hatiku saat ini begitu hampa. Ular-ular telah merampas tempat itu dan mencoba menyembunyikan jantung mereka yang berdetak dingin di sana.

“Tempat ini nyaman tidak hanya untuk saya tapi juga untuk semua orang,” kata Kamita. Kino akhirnya memahami maksud ucapannya.

Kino menyingkapkan selimutnya, memejamkan mata, dan menutupi telinga dengan tangannya. Aku tidak akan melihat, tidak akan mendengar, katanya kepada diri sendiri. Tapi dia tidak bisa menenggelamkan suara ketukannya. Bahkan jika dia berlari ke sudut terjauh di Bumi dan menyumpal telinga dengan tanah liat, selama dia masih hidup, suara ketukan itu akan memburunya tanpa ampun. Itu bukan suara ketukan pintu di kamar hotel bisnis. Itu adalah ketukan di pintu hatinya. Seseorang tidak bisa melarikan diri dari suara itu.

Dia tidak yakin sudah berapa lama waktu berlalu, tapi dia menyadari suara ketukan itu telah berhenti. Kamar itu sama heningnya dengan sisi terjauh bulan. Tetap saja, Kino bergeming di bawah selimut. Dia harus waspada. Sesuatu yang ada di luar pintunya tidak akan menyerah dengan begitu mudahnya. Sesuatu itu tidak sedang terburu-buru. Bulan tidak muncul. Hanya ada gugusan bintang redup yang membercaki langit dengan suram. Dunia, untuk beberapa lama, menjadi milik sesuatu yang lain itu. Mereka punya banyak cara yang berbeda. Mereka bisa mendapatkan yang mereka mau dengan berbagai cara. Akar kegelapan bisa menyebar ke mana pun di bawah Bumi. Menunggu dengan sabar, mencari titik lemah, mereka bisa memecahkan batu paling keras sekalipun.

Akhirnya, seperti yang Kino perkirakan, suara ketukan kembali terdengar. Tapi kali ini suara itu berasal dari arah yang berbeda. Jauh lebih dekat daripada sebelumnya. Siapa pun yang mengetuk tepat ada di luar jendela di sebelah tempat tidurnya. Semata berpegangan pada dinding gedung, tinggi di lantai delapan, tok, tok, mengetuk kaca yang terempas hujan.

Ketukannya menghasilkan irama yang sama. Dua kali. Kemudian dua kali lagi. Terus saja tanpa henti. Bagaikan suara jantung yang berdetak penuh emosi.

Tirainya terbuka. Sebelum jatuh tertidur, Kino sedang mengamati pola tetesan air hujan yang terbentuk di kaca jendela. Kino tidak bisa membayangkan apa yang akan dia lihat sekarang, jika dia melongokkan kepalanya ke luar dari balik selimut. Tidak—dia tidak bisa membayangkannya. Dia harus menghalau kemampuannya untuk membayangkan hal apa pun. Aku tidak boleh melihatnya, kata Kino kepada dirinya. Tak peduli betapa hampanya hal itu, tetap saja itu hatinya. Masih ada kehangatan manusia di dalamnya. Memori, bagai rumput laut yang membelit tiang di pantai, diam menunggu datangnya gelombang pasang. Emosi yang, jika tergores, akan terluka. Aku tidak bisa begitu saja membiarkan mereka berkeliaran di suatu tempat melampaui pemahamanku.

“Ingatan bisa berguna,” begitu kata Kamita. Sebuah pemikiran tiba-tiba menghantam Kino: bahwa Kamita entah bagaimana berhubungan dengan pohon dedalu tua yang ada di depan rumahnya. Dia tidak bisa memahami bagaimana hal ini masuk akal, sama sekali, tapi setelah pikiran itu menguasai benaknya, seketika semuanya terasa logis. Kino membayangkan dahan-dahan pohon itu, terselubung daun hijau, melengkung ke bawah, nyaris menyentuh tanah. Pada musim panas, rerimbunan itu memberikan naungan kesejukan di halaman. Pada hari-hari penuh hujan, tetesan-tetesan keemasan berkilau di ranting-rantingnya yang lunak. Pada hari berangin, ranting-ranting itu berayun-ayun bagaikan hati yang gelisah, dan burung-burung kecil akan terbang di atasnya, bercuit-cuit satu sama lain, bercahaya di atas ranting yang kecil dan lemas, hanya untuk terbang lagi.

Di bawah selimut, Kino bergelung bagaikan cacing, memejamkan mata rapat-rapat, dan memikirkan pohon dedalu itu. Satu per satu, dia membayangkan detailnya—warna dan bentuk dan gerakannya. Dan dia berharap agar fajar segera menyingsing. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah menunggu seperti ini, dengan sabar, sampai cahaya matahari muncul dan burung-burung terbangun untuk memulai hari mereka. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah memercayai burung, semua burung, dengan sayap dan paruh mereka. Sampai saat itu tiba, dia tidak boleh membiarkan hatinya kosong. Kekosongan itu, ruang hampa yang diciptakan olehnya, akan menarik mereka ke dalam hatinya.

Ketika pohon dedalu pun belum cukup, Kino memikirkan kucing abu-abu yang kurus itu, dan kegemarannya akan rumput laut panggang. Dia ingat Kamita yang duduk di meja bar, tenggelam dalam bukunya, pelari muda menjalani latihan lari yang berulang-ulang dan begitu melelahkan, permainan solo Ben Webster yang indah dalam “My Romance.” Dia ingat istrinya yang mengenakan gaun baru berwarna biru, rambutnya dipotong pendek. Dia berharap istrinya menjalani hidup yang sehat dan bahagia di rumah barunya. Tanpa, dia harap, sedikit pun luka di tubuhnya. Dia sudah meminta maaf langsung di hadapanku, dan aku sudah menerima permintaan maafnya, pikir Kino. Aku perlu belajar tidak hanya untuk melupakan, tapi juga memaafkan.

Tapi jalannya waktu tampaknya tidak ditetapkan dengan benar. Beban atas hasrat yang berat dan penyesalan yang bagai jangkar berkarat menghalangi arus normalnya. Hujan yang tak berkesudahan, jarum jam yang kebingungan, burung-burung masih cepat terlelap, pegawai kantor pos tak berwajah yang menyortir kartu pos dalam diam, payudara indah istrinya yang berayun-ayun keras di udara, sesuatu mengetuk jendelanya tanpa kenal lelah. Seakan-akan memikatnya untuk masuk lebih dalam ke labirin yang membangkitkan ingatan, ke dalam irama yang amat teratur ini. Tok, tok, tok, tok, lalu sekali lagi—tok, tok. “Jangan berpaling darinya, tatap langsung,” bisik seseorang di telinganya. “Seperti inilah rupa hatimu.”

Ranting-ranting pohon dedalu berayun-ayun di tengah angin awal musim panas. Di dalam ruangan kecil yang gulita, di suatu tempat dalam diri Kino, tangan yang hangat meraihnya. Dengan mata terpejam, dia merasakan tangan itu di atas tangannya, lembut dan kokoh. Dia telah melupakannya, sudah terpisah darinya untuk waktu yang begitu lama. Ya, aku terluka. Amat sangat dalam. Dia berkata kepada dirinya. Kemudian dia menangis.

Sementara itu hujan tidak kunjung reda, membasahi dunia dalam hawa dinginnya.

 

Terjemahan dari “Kino” karya Haruki Murakami yang diterbitkan di The New Yorker (terjemahan bahasa Inggris oleh Phillip Gabriel).

 

Advertisements

One thought on “Kino – Haruki Murakami (bag. 3-tamat)

  1. Pingback: Kino – Haruki Murakami (bag. 2) | Ceruk Aksara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s