Kino – Haruki Murakami (bag. 2)

kino1

KAMITA meminta Kino memberikan tagihan mereka, dan dia menaruh uang pas untuk membayar minumannya sendiri di meja bar. Si kucir mengeluarkan uang kertas sepuluh ribu yen dari dompetnya kemudian melemparkannya ke meja.

“Aku tidak butuh kembalian,” ujar si kucir kepada Kino. “Tapi kenapa kau tidak membeli gelas anggur yang lebih bagus? Ini anggur mahal, dan gelas seperti ini membuat rasanya jadi tidak enak.”

“Benar-benar bar murahan,” ujar laki-laki berbadan besar dengan nada mengejek.

“Benar. Bar murahan dengan pengunjung murahan,” jawab Kamita. “Tempat ini tidak cocok untukmu. Pasti ada tempat lain yang cocok. Bukan berarti aku tahu tempat yang cocok untukmu.”

“Nah, kau memang orang bijak,” ujar si badan besar. “Kau membuatku tertawa.”

“Pikirkan hal ini nanti dan tertawalah yang lama sampai puas,” ujar Kamita.

“Kau tidak bisa memberitahuku ke mana aku harus pergi,” kata si kucir. Dia menjilat bibirnya perlahan, seperti ular yang sedang mengincar mangsanya.

Laki-laki berbadan besar membuka pintu kemudian melangkah ke luar, diikuti si kucir di belakangnya. Karena mungkin merasakan ketegangan yang ada, kucing itu, meskipun saat itu hujan, meloncat ke luar mengikuti mereka.

“Anda yakin Anda baik-baik saja?” tanya Kino kepada Kamita.

“Jangan khawatir,” sahut Kamita, dengan seulas senyum tipis. “Anda tidak perlu melakukan apa-apa, Mr. Kino. Diam saja di sini. Ini akan segera berakhir.”

Kamita beranjak ke luar dan menutup pintu. Saat itu masih hujan, sedikit lebih lebat daripada sebelumnya. Kino duduk di bangku dan menunggu. Anehnya, keadaan di luar hening, dan dia tidak bisa mendengar apa pun. Buku Kamita terbuka di meja bar, seperti anjing terlatih yang menunggu pelatihnya. Sekitar sepuluh menit kemudian, pintu terbuka, kemudian masuklah Kamita, seorang diri.

“Apa Anda bisa meminjami saya handuk?” pintanya.

Kino menyerahkan handuk bersih kepadanya, Kamita kemudian menyeka kepala. Lalu leher, wajah, dan akhirnya, kedua tangannya. “Terima kasih. Semua sudah beres sekarang,” ujarnya. “Kedua laki-laki tadi tidak akan menunjukkan wajahnya lagi di sini.”

“Apa yang terjadi?”

Kamita semata menggeleng, seakan untuk mengatakan, “Anda lebih baik tidak tahu.” Dia menghampiri kursinya, menenggak sisa wiski, kemudian meneruskan bacaannya.

Belakangan pada malam itu, setelah Kamita pergi, Kino keluar dan berkeliling lingkungan perumahan. Jalanan tampak lengang dan sunyi. Tidak ada tanda-tanda perkelahian, tidak ada jejak darah. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi. Dia kembali ke bar menunggu pengunjung lain, tapi tidak ada lagi yang datang malam itu. Kucingnya juga tidak kembali. Kino menuang White Label untuk dirinya, menambahkan air dalam jumlah yang sama dan dua es batu kecil, kemudian mencicipinya. Tidak ada yang istimewa, tidak seperti yang kauharapkan. Tapi malam itu dia butuh suntikan alkohol dalam sistem tubuhnya.

SEKITAR seminggu setelah insiden itu, Kino tidur dengan seorang pengunjung perempuan. Dia adalah perempuan pertama yang berhubungan seks dengannya sejak Kino meninggalkan istrinya. Perempuan itu berumur tiga puluh, atau mungkin sedikit lebih tua. Kino tidak yakin apakah perempuan itu tergolong cantik, tapi ada sesuatu yang unik dalam dirinya, sesuatu yang menarik perhatian.

Perempuan itu pernah mengunjungi bar Kino beberapa kali, selalu ditemani laki-laki sepantarannya yang mengenakan kacamata berbingkai tempurung kura-kura dan berjenggot hippie. Laki-laki itu berambut kusut dan tidak pernah mengenakan dasi, jadi Kino mengira dia mungkin bukan tipe pekerja kantoran. Perempuan itu selalu mengenakan gaun ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping. Mereka duduk di bar, kadang bertukar kata-kata dengan suara berbisik selagi menyesap koktail atau sherry. Kunjungan mereka tidak pernah lama. Kino membayangkan mereka minum-minum sebelum bercinta. Atau mungkin sesudahnya. Dia tidak tahu yang mana, tapi cara keduanya minum mengingatkan Kino pada seks. Seks yang lama dan intens. Keduanya tampak tak berekspresi dengan cara yang aneh, terutama si perempuan, yang Kino lihat tidak pernah tersenyum. Kadang perempuan itu mengajak Kino bercakap, selalu tentang musik yang sedang diputar. Perempuan itu suka jazz dan dia juga mengoleksi LP. “Ayahku biasa mendengarkan musik ini di rumah,” katanya kepada Kino. “Mendengarnya memunculkan kembali banyak memori.”

Dari nada bicaranya, Kino tidak tahu apakah memori itu tenang musiknya atau tentang ayah perempuan itu. Tapi dia tidak berani bertanya.

Kino sebenarnya berusaha agar tidak terlalu banyak terlibat dengan perempuan itu. Laki-laki yang bersamanya kentara sekali tampak tidak senang saat Kino bersikap ramah terhadap perempuan itu. Suatu kali dia dan perempuan itu mengobrol panjang—saling bertukar tip tentang toko rekaman bekas di Tokyo dan cara terbaik merawat piringan hitam—dan setelahnya, laki-laki itu terus memandang Kino dengan tatapan dingin dan penuh curiga. Kino biasanya berhati-hati menjaga jarak dengan segala jenis kerumitan. Tidak ada yang lebih buruk ketimbang kecemburuan dan harga diri, dan Kino sudah punya banyak pengalaman mengerikan karena satu atau hal lainnya. Terpikir olehnya waktu itu bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang memunculkan sisi gelap orang lain.

Walaupun begitu, malam itu, si perempuan datang ke bar seorang diri. Tidak ada pengunjung lain, dan saat dia membuka pintu, udara dingin menyusup masuk. Perempuan itu duduk di meja bar, memesan brandy, dan menyuruh Kino memutar lagu Billie Holiday. “Lagu yang benar-benar lawas, kalau bisa.” Kino meletakkan rekaman Columbia di pemutar piringan hitam, yang memuat lagu “Georgia on My Mind”. Mereka berdua mendengarkan dalam diam. “Bisakan kau memutar sisi sebaliknya juga?” pintanya, ketika lagu itu selesai, dan Kino melakukan seperti yang perempuan itu minta.

Perlahan-lahan, perempuan itu membuat dirinya menenggak tiga gelas brandy, mendengarkan beberapa rekaman lagi—“Moonglow” oleh Erroll Garner, “I Can’t Get Started” oleh Buddy DeFranco. Awalnya, Kino pikir perempuan itu sedang menunggu teman laki-lakinya, tapi dia tidak melirik jam tangannya sekali pun. Dia semata duduk di sana, mendengarkan musik, tenggelam dalam pikiran, menyesap brandy.

“Temanmu tidak ke sini hari ini?” Kino memutuskan untuk bertanya karena sudah mendekati jam tutup bar.

“Dia tidak datang. Dia di tempat yang jauh,” ujar perempuan itu. Dia bangkit dari bangkunya dan melenggang ke tempat si kucing tidur. Dia mengelus punggung kucing itu dengan lembut menggunakan ujung jemarinya. Kucing itu, tak merasa terganggu, terus saja tidur.

“Kami berpikir untuk tidak saling menemui lagi,” ujar perempuan itu.

Kino tidak tahu bagaimana menanggapinya, jadi dia diam saja, dan melanjutkan beres-beres di belakang meja bar.

“Aku tidak yakin bagaimana menjelaskannya,” kata perempuan itu. Dia berhenti membelai kucing itu dan kembali berjalan menuju bar, hak sepatunya berkelotakan. “Hubungan kami bisa dibilang tidak … normal.”

“Bisa dibilang tidak normal.” Kino mengulang ucapan perempuan itu tanpa benar-benar memikirkan artinya.

Perempuan itu meneguk habis sedikit brandy yang masih tersisa di gelasnya. “Aku ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu, Mr. Kino,” ujarnya.

Apa pun itu, Kino tidak ingin melihatnya. Dia yakin tentang hal itu. Tapi dia tidak mencoba mengatakannya.

Perempuan itu melepaskan kardigannya dan menaruhnya di bangku. Kedua tangannya meraih ke balik punggung dan membuka ritsleting rok terusannya. Dia memutar punggungnya menghadap Kino. Tepat di bawah pengait bra, Kino melihat totol-totol janggal bekas luka berwarna kelabu pudar, seperti memar. Bekas luka itu mengingatkan Kino pada gugusan bintang di langit pada musim dingin. Deretan gelap bintang-bintang yang meredup.

Perempuan itu tidak berkata apa-apa, hanya memperlihatkan punggungnya kepada Kino. Layaknya orang yang tidak bisa memahami makna pertanyaan yang dia ajukan, Kino hanya memandangi bekas luka itu. Akhirnya, perempuan itu menutup ritsleting dan berbalik menghadapnya. Dia mengenakan kardigan dan merapikan rambutnya.

“Itu luka sundutan rokok,” kata perempuan itu enteng.

Kino kehilangan kata-kata. Tapi dia harus mengatakan sesuatu. “Siapa yang melakukannya kepadamu?” tanyanya, suaranya terdengar parau.

Perempuan itu tidak menjawab, dan Kino menyadari bahwa dirinya tak mengharapkan jawaban.

“Ada banyak lagi luka seperti itu di bagian tubuh lain,” jawab perempuan itu pada akhirnya, suaranya tanpa ekspresi. “Bagian tubuh yang … agak sulit diperlihatkan.”

 

KINO memang merasa, sejak awal, bahwa ada yang tidak biasa dari perempuan itu. Ada sesuatu yang memicu respons instingtif Kino, memperingatkannya agar tidak terlibat dengan perempuan itu. Pada dasarnya dia orang yang waspada. Kalau dia memang sangat perlu tidur dengan perempuan, dia selalu bisa melakukannya dengan pekerja profesional. Dan semua ini bukan pula karena dia tertarik pada perempuan itu.

Namun malam itu, si perempuan sangat menginginkan seorang laki-laki untuk bercinta dengannya—dan tampaknya Kino-lah laki-laki itu. Mata perempuan itu tampak dangkal, pupilnya melebar dengan aneh, tapi ada semacam kilatan tegas di sana yang tak akan memperbolehkannya mundur. Kino tidak punya kekuatan untuk menolak.

Kino mengunci bar, kemudian mereka berdua beranjak ke lantai atas. Di kamar, perempuan itu segera menanggalkan rok terusannya, melepaskan baju dalamnya, kemudian menunjuki Kino bagian tubuh yang agak sulit dia perlihatkan. Awalnya, Kino tidak tahan untuk tidak mengalihkan pandangan, tapi kemudian dia seakan kembali ditarik untuk menatapnya. Dia tidak mengerti, bukan berarti dia ingin mengerti, pikiran laki-laki yang tega melakukan hal kejam seperti itu, atau perempuan yang bersedia menanggungnya. Itu adegan keji yang berasal dari planet gersang berjarak jutaan tahun cahaya dari tempat Kino tinggal.

Perempuan itu meraih tangan Kino dan mengarahkannya ke luka itu, membuat Kino menyentuhnya satu per satu secara bergantian. Ada luka di payudaranya, dan di sebelah vaginanya. Kino menyusuri bekas luka yang gelap dan keras itu, seakan dia sedang menggunakan pensil untuk menyambungkan titik-titiknya. Bekas luka itu tampak membentuk sebuah wujud yang mengingatkan Kino pada sesuatu, tapi dia tidak yakin bentuk apa itu.

Mereka bercinta di atas lantai tatami. Tanpa bertukar kata, tanpa pemanasan, bahkan tidak ada waktu untuk mematikan lampu atau berbaring di atas kasur. Lidah perempuan itu menelusuri leher Kino, kukunya menghunjam punggungnya. Di bawah sorotan lampu, bagaikan dua binatang kelaparan, mereka melahap daging yang mereka idam-idamkan. Ketika fajar tampak menyingsing di luar, mereka merayap ke atas kasur kemudian terlelap, seakan-akan terseret ke dalam kegelapan.

Kino terbangun tepat sebelum tengah hari, dan perempuan itu sudah pergi. Dia merasa seakan-akan baru saja mendapat mimpi yang sangat realistis, tapi tentu saja itu bukan mimpi. Punggungnya penuh garis-garis cakaran, lengannya penuh bekas gigitan, dan penisnya terasa sakit oleh nyeri yang tumpul. Beberapa helai rambut hitam panjang melingkar di atas bantalnya, dan seprainya menguarkan aroma kuat yang belum pernah dia cium sebelumnya.

Perempuan itu datang ke bar beberapa kali setelah itu, selalu ditemani si laki-laki berjenggot. Mereka akan duduk di meja bar, bercakap dalam suara tertahan selagi menyesap satu atau dua gelas koktail, kemudian pergi. Perempuan itu akan sedikit bertukar kata dengan Kino, paling sering tentang musik. Nada suaranya masih sama seperti sebelumnya, seakan-akan perempuan itu tidak ingat yang terjadi pada mereka malam itu. Tapi tetap saja, Kino bisa menangkap kilatan nafsu di mata perempuan itu, bagaikan cahaya redup dari dalam lubang tambang. Kino yakin melihatnya. Dan kilatan mata itu membuat Kino kembali mengingat semuanya dengan jelas—hunjaman kuku di punggungnya, sengatan di penisnya, lidah perempuan itu yang panjang dan licin, aroma tempat tidurnya.

Selagi Kino dan perempuan itu bercakap-cakap, laki-laki yang datang bersamanya akan mengamati ekspresi dan gerak-gerik Kino dengan saksama. Kino merasakan sesuatu yang kuat menjalin pasangan itu, seakan-akan ada rahasia besar yang hanya diketahui mereka berdua.

 

PADA AKHIR musim semi, proses perceraian Kino rampung. Dia dan istrinya bertemu di bar suatu siang, sebelum bar itu buka, untuk membereskan beberapa persoalan final.

Masalah hukumnya selesai dengan cepat, dan keduanya telah menandatangani berkas-berkas yang diperlukan. Istri Kino mengenakan gaun baru berwarna biru, rambutnya dipotong pendek. Dia tampak lebih sehat dan ceria dibanding yang pernah dilihat Kino. Perempuan itu tak diragukan lagi telah memulai kehidupan baru yang lebih memuaskan. Dia melempar pandang ke sekeliling bar. “Tempat yang benar-benar bagus,” ujarnya. “Hening, bersih, tenang—benar-benar sepertimu.” Ucapannya diikuti keheningan singkat. “Tapi tidak ada satu hal pun di bar ini yang benar-benar menggugahmu”: Kino membayangkan inilah kata-kata yang ingin diucapkan istrinya.

“Kau ingin minum sesuatu?” tanya Kino.

“Sedikit anggur merah, kalau kau punya.”

Kino mengeluarkan dua gelas anggur dan menuangkan Napa Zinfandel. Mereka minum dalam diam. Mereka tidak akan bersulang untuk perceraian mereka. Si kucing berjalan mengendap-endap dan, tanpa dinyana, meloncat ke pangkuan Kino. Kino membelai bagian belakang telinga kucing itu.

“Aku ingin minta maaf,” akhirnya istrinya berkata.

“Untuk apa?” tanya Kino.

“Karena telah menyakitimu,” sahutnya. “Kau sakit hati, walau sedikit, bukan?”

“Sepertinya,” jawab Kino setelah mempertimbangkannya sejenak. “Bagaimanapun, aku manusia. Aku merasa sakit. Tapi sedikit atau banyak, aku tidak tahu.”

“Aku ingin menemuimu dan meminta maaf.”

Kino mengangguk. “Kau sudah minta maaf dan aku menerima permintaan maafmu. Tidak usah mengkhawatirkannya lagi.”

“Aku ingin menjelaskan apa yang terjadi, tapi aku tidak bisa merangkai kata-katanya.”

“Tapi bagaimanapun, bukankah kita sudah sampai di titik yang sama?”

“Kurasa begitu,” sahut istrinya.

Kino menyesap anggurnya.

“Ini bukan salah siapa-siapa,” ujar Kino. “Aku seharusnya tidak pulang lebih awal. Atau seharusnya aku memberitahumu kalau aku akan pulang. Dengan begitu kita tidak akan melalui semua ini.”

Istrinya tidak mengatakan apa-apa.

“Kapan kau mulai berkencan dengan laki-laki itu?” tanya Kino.

“Kupikir sebaiknya kita tidak membahas itu.”

“Lebih baik aku tidak tahu, maksudmu? Mungkin kau benar,” ujar Kino. Dia terus membelai kucing itu, yang sekarang mendengkur pelan. Hal pertama lainnya.

“Mungkin aku tidak berhak mengatakannya,” kata istrinya, “tapi kupikir lebih baik kau melupakan yang sudah terjadi dan mencari perempuan baru.”

“Mungkin,” ujar Kino.

“Aku tahu pasti ada perempuan di luar sana yang tepat untukmu. Pastinya tidak terlalu sulit menemukannya. Aku tidak bisa menjadi perempuan itu untukmu, dan aku telah melakukan hal yang buruk. Aku tidak enak hati karenanya. Tapi sejak awal memang ada yang keliru di antara kita, seolah-olah kita salah mengancingkan baju kita. Kurasa kau sebaiknya mempunyai kehidupan yang normal dan bahagia.”

Salah mengancingkan baju, pikir Kino.

Kino memandang gaun baru yang dikenakan istrinya. Mereka duduk berhadap-hadapan, jadi dia tidak tahu apakah ritsleting atau kancing yang ada di punggung gaun itu. Tapi dia tidak bisa mengelak untuk memikirkan apa yang akan dia lihat kalau dia membuka ritsleting atau kancing gaun istrinya. Tubuh perempuan itu bukan lagi milik Kino, jadi dia hanya bisa membayangkannya. Ketika memejamkan mata, Kino melihat bekas luka bakar cokelat tua yang tak terhitung jumlahnya menggeliang-geliut di punggung putih istrinya, bagaikan sekawanan cacing. Kino menggeleng-geleng untuk menghalau bayangan itu, dan perempuan itu tampaknya keliru mengartikannya.

Perempuan itu meletakkan telapak tangannya di atas tangan Kino dengan lembut. “Aku minta maaf,” katanya. “Aku benar-benar minta maaf.”

—bersambung ke bagian 3.

 

Advertisements

One thought on “Kino – Haruki Murakami (bag. 2)

  1. Pingback: Kino – Haruki Murakami (bag. 1) | Ceruk Aksara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s