Kino – Haruki Murakami (bag. 3-tamat)

kino1

MUSIM GUGUR datang dan si kucing menghilang.

Perlu beberapa hari bagi Kino untuk menyadari bahwa kucing itu telah lenyap. Kucing ini—masih tidak bernama—datang ke bar sesuka hati dan kadang tidak menampakkan diri untuk beberapa lama, jadi kalaupun Kino tidak melihatnya selama seminggu, atau bahkan sepuluh hari, dia tidak khawatir. Kino menyukai kucing itu, dan kucing itu pun tampak memercayainya. Kucing itu juga seperti jimat keberuntungan bagi bar Kino. Kino punya kesan kuat bahwa selama kucing itu tidur di pojokan bar, tidak akan ada hal buruk terjadi. Tapi setelah dua minggu berlalu, Kino mulai khawatir. Setelah tiga minggu, firasat Kino mengatakan bahwa kucing itu tidak akan kembali.

Di sekitar waktu kucing itu menghilang, Kino mulai melihat ular di luar, di dekat bangunan barnya.

Ular pertama yang dia lihat berwarna cokelat tua dan bertubuh panjang. Ular itu ternaungi pohon dedalu di halaman depan, melata santai di sekitar situ. Kino, yang menenteng sekantong belanjaan, sedang membuka kunci pintu ketika melihatnya. Melihat ular di tengah Tokyo adalah hal yang jarang terjadi. Dia agak terkejut, tapi tidak khawatir tentang hal itu. Museum Nezu ada di belakang barnya, dengan tamannya yang luas. Bukan tak terbayangkan ada ular bersarang di sana.

Tapi dua hari kemudian, selagi Kino membuka pintunya tepat sebelum tengah hari untuk mengambil koran, dia melihat ular berbeda di tempat yang sama. Kali ini warnanya kebiruan dan lebih kecil daripada ular sebelumnya, dan tampak berlendir. Ketika melihat Kino, ular itu berhenti, sedikit mengangkat kepala, dan memakukan pandangan kepadanya, seakan mengenalnya. Kino ragu-ragu, tidak yakin harus melakukan apa, dan ular itu perlahan menurunkan kepalanya kemudian menghilang di antara bayang-bayang. Semua kejadian itu membuat Kino merinding.

Tiga hari kemudian, Kino memergoki ular ketiga. Ular itu juga ada di bawah naungan pohon dedalu di halaman depan. Ular ini tampak lebih kecil ketimbang ular yang lain dan berwarna kehitaman. Kino tidak tahu apa-apa tentang ular, tapi ular yang satu ini tampak paling berbahaya baginya. Entah bagaimana, ular itu tampak berbisa. Ketika menyadari kehadiran Kino, seketika ular itu merayap ke dalam semak. Tiga ular dalam waktu seminggu, entah bagaimana kau memandangnya, jelas terlalu banyak. Ada hal aneh yang sedang terjadi.

Kino menelepon bibinya yang ada di Izu. Setelah menceritakan perkembangan lingkungan perumahannya, Kino bertanya apakah bibinya pernah melihat ular di sekitar rumahnya di Aoyama.

“Ular?” tanya bibinya keras-keras, terdengar kaget. “Aku lama sekali tinggal di sana tapi sama sekali tidak ingat pernah melihat ular. Kupikir mungkin itu tanda akan ada gempa bumi atau sejenisnya. Binatang merasakan akan ada bencana dan mulai bertingkah aneh.”

“Kalau itu benar, mungkin lebih baik aku menyiapkan persediaan ransum darurat.”

“Sepertinya itu ide bagus. Suatu hari Tokyo akan diguncang gempa bumi besar.”

“Tapi apakah ular sepeka itu terhadap gempa?”

“Aku tidak tahu mereka peka terhadap apa,” ujar bibinya. “Tapi ular binatang pintar. Dalam legenda kuno, mereka sering membantu mengarahkan orang. Tapi, ketika seekor ular mengarahkanmu, kau tidak tahu apakah dia membawamu ke arah yang baik atau buruk. Seringnya, itu kombinasi antara kebaikan dan kejahatan.”

“Itu ambigu,” sahut Kino.

“Tepat sekali. Pada dasarnya ular adalah binatang ambigu. Dalam legenda-legenda ini, ular terpintar dan terbesar menyembunyikan jantungnya di suatu tempat di luar tubuhnya sehingga dia tidak bisa dibunuh. Kalau kau mau membunuh ular itu, kau harus pergi ke tempat persembunyiannya ketika ular itu tidak ada di sana, mencari jantungnya yang berdenyut, dan membelahnya jadi dua. Bukan pekerjaan mudah, tentu saja.”

Bagaimana bisa bibinya tahu semua ini?

“Beberapa hari lalu aku menonton tayangan di NHK yang membandingkan legenda-legenda di seluruh dunia,” jelas bibinya, “dan seorang profesor dari suatu universitas bercerita tentang hal ini. TV bisa lumayan berguna—kalau kau punya waktu, sebaiknya kau lebih banyak nonton TV.”

Kino mulai merasa seakan-akan rumahnya dikelilingi ular. Dia merasakan kehadiran mereka yang diam-diam. Pada tengah malam, ketika Kino menutup barnya, suasana di perumahan sangat tenang, tidak ada suara selain sirene yang sesekali terdengar. Begitu tenang hingga dia nyaris bisa mendengar ular melata di sekitarnya. Dia mengambil papan dan memakukannya ke pintu kecil yang dia buat untuk si kucing sehingga tidak akan ada ular yang bisa masuk ke rumah.

Continue reading

Advertisements

Kino – Haruki Murakami (bag. 2)

kino1

KAMITA meminta Kino memberikan tagihan mereka, dan dia menaruh uang pas untuk membayar minumannya sendiri di meja bar. Si kucir mengeluarkan uang kertas sepuluh ribu yen dari dompetnya kemudian melemparkannya ke meja.

“Aku tidak butuh kembalian,” ujar si kucir kepada Kino. “Tapi kenapa kau tidak membeli gelas anggur yang lebih bagus? Ini anggur mahal, dan gelas seperti ini membuat rasanya jadi tidak enak.”

“Benar-benar bar murahan,” ujar laki-laki berbadan besar dengan nada mengejek.

“Benar. Bar murahan dengan pengunjung murahan,” jawab Kamita. “Tempat ini tidak cocok untukmu. Pasti ada tempat lain yang cocok. Bukan berarti aku tahu tempat yang cocok untukmu.”

“Nah, kau memang orang bijak,” ujar si badan besar. “Kau membuatku tertawa.”

“Pikirkan hal ini nanti dan tertawalah yang lama sampai puas,” ujar Kamita.

“Kau tidak bisa memberitahuku ke mana aku harus pergi,” kata si kucir. Dia menjilat bibirnya perlahan, seperti ular yang sedang mengincar mangsanya.

Laki-laki berbadan besar membuka pintu kemudian melangkah ke luar, diikuti si kucir di belakangnya. Karena mungkin merasakan ketegangan yang ada, kucing itu, meskipun saat itu hujan, meloncat ke luar mengikuti mereka.

“Anda yakin Anda baik-baik saja?” tanya Kino kepada Kamita.

“Jangan khawatir,” sahut Kamita, dengan seulas senyum tipis. “Anda tidak perlu melakukan apa-apa, Mr. Kino. Diam saja di sini. Ini akan segera berakhir.”

Kamita beranjak ke luar dan menutup pintu. Saat itu masih hujan, sedikit lebih lebat daripada sebelumnya. Kino duduk di bangku dan menunggu. Anehnya, keadaan di luar hening, dan dia tidak bisa mendengar apa pun. Buku Kamita terbuka di meja bar, seperti anjing terlatih yang menunggu pelatihnya. Sekitar sepuluh menit kemudian, pintu terbuka, kemudian masuklah Kamita, seorang diri.

“Apa Anda bisa meminjami saya handuk?” pintanya.

Kino menyerahkan handuk bersih kepadanya, Kamita kemudian menyeka kepala. Lalu leher, wajah, dan akhirnya, kedua tangannya. “Terima kasih. Semua sudah beres sekarang,” ujarnya. “Kedua laki-laki tadi tidak akan menunjukkan wajahnya lagi di sini.”

“Apa yang terjadi?”

Kamita semata menggeleng, seakan untuk mengatakan, “Anda lebih baik tidak tahu.” Dia menghampiri kursinya, menenggak sisa wiski, kemudian meneruskan bacaannya.

Belakangan pada malam itu, setelah Kamita pergi, Kino keluar dan berkeliling lingkungan perumahan. Jalanan tampak lengang dan sunyi. Tidak ada tanda-tanda perkelahian, tidak ada jejak darah. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi. Dia kembali ke bar menunggu pengunjung lain, tapi tidak ada lagi yang datang malam itu. Kucingnya juga tidak kembali. Kino menuang White Label untuk dirinya, menambahkan air dalam jumlah yang sama dan dua es batu kecil, kemudian mencicipinya. Tidak ada yang istimewa, tidak seperti yang kauharapkan. Tapi malam itu dia butuh suntikan alkohol dalam sistem tubuhnya.

Continue reading