Makhluk-Makhluk Mungil — Douglas Coupland

 

little creatures1

Aku membawamu berkendara ke Prince George untuk berkunjung ke rumah kakekmu, si pecandu golf. Aku lelah—seharusnya aku tidak perlu menyetir sejauh ini—setelah berkendara ke utara tanpa henti selama dua belas jam dari Vancouver. Selama beberapa bulan belakangan, aku hidup dengan mengandalkan sebuah koper dan tidur beralaskan matras di rumah seorang teman; Kentucky Fried Chicken dan telepon berang penuh tuduhan dari Kau-Tahu-Siapa menjadi santapanku sehari-hari. Gaya hidup berpindah-pindah seperti ini berdampak buruk. Aku selalu merasa seperti akan terkena flu, pada titik tertentu merasa ingin meminjam mantel orang lain—meminjam kehidupan orang lain—aura mereka. Tampaknya aku sudah kehilangan kemampuan menciptakan auraku sendiri.

 

Perjalanan kali ini tersendat-sendat, terinterupsi keharusanku berhenti di setiap toserba dan rumah makan di sepanjang jalan untuk menghubungi pengacaraku dari telepon umum. Sisi baiknya, bagaimanapun, kau bisa melihat binatang-binatang yang ada di dunia untuk kali pertama dalam hidupmu—semua binatang yang hidup di luar jendela mobil. Itu semua dimulai nyaris sejak awal perjalanan, di peternakan Fraser Valley yang penuh sapi dan domba serta kuda. Setengah jam kemudian, di dekat ujung lembah setelah melewati Chilliwack, kau menjadi terobsesi ketika aku menunjuk ke arah elang botak yang bertengger bagaikan setumpuk besar uang di puncak pohon pinus yang meranggas di bahu jalan. Kau begitu bersemangat sampai-sampai tidak menyadari bahwa taman hiburan Flinstone Bedrock City tutup.

 

Kau mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang binatang, beberapa di antaranya begitu sulit, tapi pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pengalih perhatian yang menyenangkan dari telepon umum dan keletihan yang kurasakan. Tepat setelah melihat elang itu kau bertanya kepadaku, pertanyaan yang tampaknya muncul begitu saja, “Dari mana datangnya orang?” Aku tidak yakin apakah yang kaumaksud adalah cerita tentang proses reproduksi atau bahtera atau hal lainnya. Apa pun maksudmu, keduanya agak sulit kujawab saat itu, tapi kau membuatku berpikir. Maksudku, lima ribu tahun yang lalu manusia muncul entah dari mana—cling!—dengan otak dan semua hal lainnya kemudian mulai menghancurkan planet ini. Kau akan berpikir bahwa kita memikirkan persoalan itu lebih dari yang sebenarnya.

Kau kembali mengulang pertanyaanmu sehingga aku memberikan jawaban sementara yang seharusnya tidak dikatakan orangtua kepada anaknya. Aku memberitahumu bahwa orang datang “dari timur jauh”. Kau tampaknya puas dengan jawaban ini. Kemudian di titik itu, perhatian kita berdua teralihkan—rakun yang mati terlindas di jalan mengalihkan perhatianmu yang sebelumnya terpaku di bahu jalan, dan perhatianku teralihkan oleh telepon umum lainnya. Pengacara—ya Tuhan. Suatu hari kau akan menyeberangi garis tipis ini dan benar-benar menyadari bahwa kita perlu berlindung dari diri kita sendiri.

 

Panggilan telepon itu berlangsung lama dan dijejali berita tidak-terlalu-bagus serta diselingi raungan truk kontainer yang lewat dan teriakanku yang melarangmu menyodok-nyodok bangkai rakun malang itu dengan ranting. Aku memberi tahu Wayne, pengacaraku, tentang elang tadi, dan ia menyukai cerita itu karena ia selalu menyebut egonya sebagai “elang”. “Elangku membubung tinggi hari ini.” Semacam itulah.

Setelah membanting gagang telepon, aku membeli kopi dan 7-Up di rest area  dan  melanjutkan perjalanan kita. Kau masih memandang ke luar untuk melihat binatang lain, terutama beruang dan rusa, selagi lembah yang kita lalui beralih menjadi pegunungan. Kita berbelok ke jalan tol Coquihalla dan jejak peradaban samar-samar menghilang. Aku lega melihat betapa cepatnya pemandangan di luar berubah menjadi belantara liar.

 

Salju tampak menyelimuti puncak tertinggi pegunungan, sementara hawa segar menyelusup melalui lubang udara, seperti aroma pohon Natal. Cahaya mentari penghujung hari menyeruak di antara puncak pepohonan di samping kita dan kita bisa melihat tumpukan ranting pohon birch putih di bawah lembah tampak seperti hiasan yang dibubuhkan di atas makanan Jepang. Jalanan begitu panjang dan curam, dan pegunungan tampak begitu besar, yang membuatku mulai berpikir betapa menakutkan dan memesonanya dunia baru ini bagi para moyang. Perjalanan kita terasa damai.

 

Aku kembali berpikir tentang binatang.

Dan pada gilirannya, ini juga membuatku berpikir tentang manusia. Lebih tepatnya, aku berpikir tentang apa yang sebenarnya membuat manusia, ya … menjadi manusia? Seperti apa perilaku khas manusia itu? Misalnya, kita tahu seperti apa perilaku anjing: anjing melakukan hal khas anjing—mereka mengejar tongkat, mengendus bebauan, dan mengeluarkan kepalanya dari mobil yang sedang melaju. Dan kita tahu perilaku kucing: kucing mengejar tikus, mengusapkan tubuhnya ke kakimu ketika lapar, dan kesulitan memutuskan akan pergi ke luar atau tetap berada di dalam ketika kau membiarkan mereka keluar rumah. Jadi, apa tepatnya perilaku khas manusia yang hanya dilakukan oleh manusia?

 

Aku melihatnya dari sudut pandang berbeda. Aku berpikir: Jadi begini, sebagai spesies, kita telah membuat satelit, televisi kabel, dan Ford Mustangs, tapi bagaimana jika, katakanlah, yang menciptakan benda-benda itu adalah anjing, bukan manusia. Bagaimana para anjing akan mengekspresikan perilaku esensial khas anjing lewat penemuan-penemuan mereka? Akankah mereka membangun stasiun luar angkasa berbentuk tulang besar yang mengitari Bumi? Akankah mereka membuat film tentang bulan dan duduk di bioskop terbuka sembari melolong saat menontonnya?

 

Atau, bagaimana jika kucing-lah yang menciptakan teknologi, alih-alih manusia—akankah kucing mendirikan bangunan pencakar langit berlapis karpet tebal sebagai tempat mengasah kuku mereka? Akankah mereka punya tayangan televisi yang menampilkan mainan karet berdecit sebagai bintangnya?

 

Namun, bukan binatang yang menciptakan mesin, melainkan manusia. Jadi apa sebenarnya perilaku esensial khas manusia yang kita ekspresikan lewat penemuan-penemuan kita? Apa yang membuat kita menjadi kita?

Aku berpikir tentang betapa janggalnya kenyataan bahwa ada miliaran orang yang hidup, tapi tidak seorang pun yang benar-benar yakin apa yang membuat orang menjadi orang. Satu-satunya kegiatan yang kupikir hanya bisa dilakukan oleh manusia dan tidak bisa dilakukan oleh binatang adalah merokok, binaraga, dan menulis. Tidak banyak, jika dibandingkan dengan kenyataan bahwa tampaknya kita menganggap diri kita begitu spesial.

 

Di sisi kanan di bawah kita, Sungai Coquihalla bergejolak. Mobil meluncur dengan mulus. Kemudian, tepat setelah kita melewati jembatan penahan longsor salju yang kedua, kita melihat beberapa rusa ekor putih—rusa jantan, rusa betina, dan anak rusa bertanduk pendek. Kau menjadi terlalu bersemangat, seakan baru saja menghabiskan lima mangkuk sereal Count Chocula. Kita menghentikan mobil dan keluar untuk memperhatikan mereka, kemudian keheningan total melingkupi kita. Ketiga makhluk itu memandang kita dengan tatapan sangat singkat yang lugu dan ingin tahu sebelum meloncat kembali ke dalam hutan. Selagi berjalan kembali menuju mobil aku berkata kepadamu, “Aku bertanya-tanya apa yang ada di pikiran para binatang saat melihat manusia dengan mobil merah kita yang sinting dan pakaian warna-warni kita. Bagaimana menurutmu? Mereka pasti berpikir kita adalah makhluk paling aneh.” Kau tidak mengacuhkan ucapanku.

 

Lalu kita kembali berkendara. Tidak lebih dari dua kilometer kemudian, kita melihat dua domba liar bertanduk besar di punggung bukit, mengais-ngais onggokan kerikil. Sekali lagi kita berhenti dan keluar dari mobil. Meskipun saat itu udara begitu dingin menggigit, tinggi di atas pegunungan, kita memperhatikan kedua makhluk itu sampai mereka menghilang ke dalam hutan.

Kita melanjutkan berkendara dan sama-sama terdiam, mencerna kehadiran binatang-binatang itu dalam hidup kita, juga makna keberadaan mereka. Apa itu rusa? Apa itu domba liar bertanduk besar? Mengapa makhluk tertentu tampak menarik bagi kita dan sebagian lainnya tidak? Apa itu makhluk?

Aku memikirkan binatang-binatang yang kusukai. Aku suka anjing karena mereka terus mencintai orang yang sama. Ibumu menyukai kucing karena mereka tahu apa yang mereka mau. Kupikir jika badan kucing dua kali lebih besar daripada ukuran normal mereka sekarang, mungkin mereka akan dianggap binatang ilegal. Tapi bahkan jika anjing tiga kali lebih besar daripada ukuran mereka sekarang, mereka tetap akan menjadi teman yang baik. Coba renungkan.

Kau menyukai semua binatang untuk saat ini, walaupun tidak diragukan lagi suatu hari kau akan memilih binatang favoritmu. Sifat alamimu akan berkuasa. Kita semua terlahir dengan sifat alami. Kau keluar dari perut ibumu, aku melihat matamu, dan aku langsung tahu bahwa kau sudah menjadi kau saat itu. Kemudian aku kembali memikirkan kehidupanku yang lalu dan menyadari bahwa sifat alamiku—yang menjadi inti diriku—pada dasarnya tidak pernah berubah sepanjang berlalunya waktu. Setiap kali bangun pagi, pada momen-momen awal sebelum ingat di mana atau kapan aku bangun, aku masih merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan saat aku berumur lima tahun. Kadang aku bertanya-tanya apakah sifat alami bisa berubah sama sekali atau justru melekat pada diri kita, sebagaimana tentunya anjing menyukai tulang atau kucing suka mengejar tikus.

 

Kita berhenti untuk makan malam di Chicken Shack di Kota Merritt. Kau membawa beberapa bukumu untuk dibaca sementara mata merahku memindai The Globe dan The Mail bagaikan tongkat yang digesekkan maju mundur di trotoar.

Setelah itu, kita melanjutkan perjalanan. Warna ungu membentang di langit dan kabut di puncak pegunungan tampak bagaikan dunia yang masih berada dalam tahap gagasan. Kita menerobos kabut di lembah seakan berjalan menuju masa lalu.

Kita mendaki bukit kemudian turun menuju lembah lainnya, tempat sekawanan burung tak dikenal melayang turun ke pusat ngarai yang dalam, bagaikan terkungkung di dalam ambar. Lalu kita turun menuju ngarai, tak ada satu pun rumah dan sedikit pun suara di sana—hanya ada kita dan jalanan—salju mulai turun dan matahari menghilang sepenuhnya. Dunia berubah kelabu, kemudian aku berkata, “Tahan napasmu” dan kau menanggapi, “Kenapa?” kemudian aku menjawab, “Karena kita sedang memasuki permulaan waktu.” Dan kita benar-benar melakukannya.

 

Waktu, Sayang—begitu banyak, begitu banyak waktu yang tersisa sampai penghujung hidupku—kadang aku merasa senewen melihat betapa lambatnya waktu berlalu dan betapa cepatnya tubuhku menua.

Tapi aku tidak boleh membiarkan diriku berpikir seperti ini. Aku harus mengingatkan diriku bahwa waktu membuatku takut hanya ketika aku berpikir bahwa aku harus melaluinya seorang diri. Kadang aku takut sendiri dengan betapa seringnya pikiranku berkutat untuk membuat diriku merasa bahwa tidur sendirian di kamar itu tidak terlalu buruk.

 

Kita menginap di sebuah motel di Kamloops malam itu, setengah jalan menuju tujuan akhir kita. Aku tidak sanggup menyetir lebih jauh lagi. Setelah menempati kamar kita, muncul drama besar: Buku Dr. Seuss-mu tertinggal di Chicken Shack di Merritt. Kau tidak mau tenang sebelum akhirnya aku menceritakan kisah yang membuatku harus berimprovisasi walaupun sebenarnya aku sangat lelah; hal yang tidak mahir kulakukan. Dan entah dari mana, aku katakan saja apa yang muncul dalam benakku, lalu aku menceritakan kisah “Jingka”.

“Jingka?” tanyamu.

“Ya—Jingka—anjing berkacamata.”

Kemudian kau menanyakan apa yang dilakukan Jingka, dan aku tidak bisa memikirkan apa-apa kecuali bahwa anjing itu mengenakan kacamata.

Kau bersikeras sehingga aku berkata, “Hmmm, seharusnya Jingka menjadi salah satu tokoh di buku serial Cat in the Hat tapi ….”

“Tapi apa?” tanyamu.

“Tapi dia suka mabuk,” jawabku.

“Persis seperti Kakek,” sahutmu, puas karena bisa mengaitkannya dengan kehidupan nyata.

“Kupikir juga begitu,” kataku.

 

Lalu kau ingin mendengar cerita tentang binatang-binatang lainnya, jadi aku bertanya apakah kau pernah mendengar kisah Tetupai si Tupai, dan kau menjawab belum pernah. Kukatakan, “Tetupai akan menggelar pameran lukisan kacang di Galeri Seni Vancouver tapi ….”

“Tapi apa?” tanyamu.

“Tapi istrinya, Bu Tetupai, melahirkan bayi tupai sehingga Tetupai harus bekerja di pabrik selai kacang dan tidak pernah berhasil menyelesaikan lukisannya.”

“Oh.”

Aku terdiam sejenak. “Kau ingin mendengar cerita tentang binatang lainnya?”

“Hmmm, sepertinya,” sahutmu, terdengar sedikit ambigu.

“Apa kau pernah mendengar cerita Clappy si Kucing?”

“Belum.”

 

“Hmmm, Clappy si Kucing ingin menjadi bintang film suatu hari nanti. Tapi kemudian tagihan MasterCard-nya jebol dan dia harus bekerja sebagai teller di HSBC untuk membayar tagihan-tagihannya. Tidak lama kemudian dia sudah terlalu tua untuk mencoba menjadi bintang film—atau ambisinya sudah pudar—atau mungkin keduanya. Kemudian ia mendapati bahwa jauh lebih mudah menceritakan bagaimana ia melakukannya ketimbang benar-benar melakukannya lalu ….”

“Lalu apa?” tanyamu.

 

“Bukan apa-apa, Sayang,” kataku, menghentikan ucapanku di sana—tiba-tiba merasakan kengerian yang jauh lebih besar daripada yang bisa kaubayangkan ketika menceritakan kisah binatang-binatang ini kepadamu—menjejali kepalamu dengan cerita-cerita ini—cerita tentang makhluk-makhluk mungil yang cantik ini, makhluk yang seharusnya menjadi bagian dari kisah dongeng tetapi justru tersesat di tengah jalan.

 

Terjemahan “Little Creatures” dalam Life After God Douglas Coupland (1994)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s